Sepatah Kata Dari Saya

Assalamualaikum Wr. Wb.

Terima kasih anda telah mengunjungi blog saya. Blog ini ditujukan sebagai sarana komunikasi antara saya dan ummat. Mudah-mudahan blog ini dapat bermanfaat bagi anda. Saya harap, anda berkenan memberikan kritik dan masukan anda ke email lukman.hakiem@yahoo.co.id . Kritik dan masukan anda sangat berarti bagi saya dalam mengabdi dan melayani ummat, demi melanjutkan pengabdian untuk kemaslahatan bersama.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Kegiatan Saya

Lukman_Hakiem's Profile Pictures album on Photobucket

01 Januari 2016



5
Menggugat Eksistensi HMI
(Bukan Masalah Kubu MPO dan PB HMI)

            HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi kader yang lahir karena kebutuhan politik mahasiswa.Kondisi politik yang melingkupi ketika itu merangsang beberapa mahasiswa untuk membentuk suatu organisasi yang bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Karena itu tujuan didirikannya HMI antara lain mempertahankan Negara Republik Indonesia serta mempertinggi derajat dan martabat rakyat Indonesia. Juga untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam di muka bumi.
Kepentingan Nasional dan Kepentingan Islam
            Sebagai organisasi kader, HMI menginginkan semua mahasiswa yang beragama Islam mengenal dan menghayati ajaran agamanya, serta mengamalkannya di mana pun dia berada.Tentunya penghayatan dan pengenalan agama tersebut disesuaikan dengan atribut kemahasiswaannya yang lebih menekankan pada etos kecendekiawanan.Harapan yang ingin diperoleh dari ini adalah terciptanya insan akademis yang beragama dan dan memiliki wawasan serta kepekaan sosial-politik.
            Tekad yang menyertai didirikannya HMI semacam itulah, yang menjadikan ia selalu ingin eksis dalam setiap kurun waktu dan setiap perjalanan sejarah. Kalau tekad tersebut belum tercapai, apa pun tantangannya, harus dihadapi. Dengan kata lain, dalam situasi sosial-politik yang bagaimana pun selama usaha menciptakan insan akademis yang Islami dan memiliki kepekaan sosial-politik ini belum berhasil, tidak ada alasan untuk meniadakan organisasi tersebut.Paling tidak itu menjadi keinginan saya sebagai pendiri organisasi tersebut.
Tentu saja sesuai dengan perkembangan sejarah, tujuan utama didirikannya HMI tersebut bisa saja bergeser.Dan yang demikian ini, juga sudah terjadi.Meski demikian, pergeseran tujuan yang pernah terjadi di dalam HMI, beberapa waktu setelah didirikan, tidaklah berarti menghilangkan tujuan semula.Pergeseran tujuan yang terjadi semata-mata hanyalah sebagai upaya mempersempit dan menspesialisasikan tujuan tersebut.Tujuan itu adalah turut membina anggotanya agar menjadi sarjana-sarjana yang handal.
Jadi, pada garis besarnya, HMI lahir untuk kepentingan nasional dan kepentingan Islam. Dengan kata lain, kelahiran HMI merupakan manifestasi kepedulian mahasiswa pada waktu itu untuk ikut berperan dalam menegakkan Republik ini, yang sekaligus mempertahankan dan menyiarkan Islam. Dan ini bisa dibuktikan dari kiprah HMI dalam setiap perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Kalau kemudian HMI berperan juga dalam suatu perubahan sosial, itu sebenarnya hanyalah peran tambahan.Sebab HMI sebagai generasi muda yang sekaligus warga negara, mempunyai kewajiban memberi kekhususan kepada mahasiswa yang beragama Islam yang menjadi anggotanya.Misalnya saja turut membentuk anggota HMI supaya mempunyai sikap kritis dan mempunyai kualitas yang seharusnya dimiliki seorang mahasiswa.Kemudian sesudah menjadi sarjana mereka bisa bekerja dengan tetap membawa missi-missi yang bernafaskan Islam.Atau bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat lingkungannya atau bahkan menjadi pemimpin dalam skala lokal maupun nasional.
Kemudian apakah tujuan tersebut telah tercapai?Untuk menjawab pertanyaan itu agak sulit. Tetapi kalau sekarang kita melihat banyak mahasiswa yang mempunyai kebanggaan terhadap Islam, masjid-masjid di kampus penuh dengan kegiatan keagamaan, bisa dikatakan ada arahan ke sana. Ini bukan berarti mengklaim bahwa kecenderungan tersebut semata-mata sebagai hasil usaha HMI, tetapi yang lebih penting adalah HMI memiliki peranan di dalamnya.Sebab sejarah mengatakan bahwa dulu untuk mencari mahasiswa yang shalat saja sulit.Walaupun memang belum tentu bahwa perubahan-perubahan tersebut semata-mata atas andil HMI, tapi hal seperti itulah yang diinginkan HMI.
Meski demikian harus diakui bahwa sekarang ini masih banyak mahasiswa yang menjadi anggota HMI hanya sebagai simbol status.Mereka mengikuti basic training –pelatihan kepemimpinan tingkat dasar—HMI hanya untuk hura-hura atau ramai-ramai. Tapi itu harus dipahami sebagai proses, karena memang mahasiswa yang jadi anggota HMI berasal dari tingkat pemahaman keagamaan yang berbeda-beda. Ada yang ketika masuk HMI baru bisa membaca syahadat, ada yang sudah bisa membaca Al-Quran, dan ada pula yang dirinya sudah mapan dalam beragama.
Ini persoalan yang tidak begitu sulit diatasi, karena kita harus paham bahwa perkembangan jiwa manusia memang punya tingkatan yang berbeda. Bagi HMI, yang demikian ini sebenarnya bukan persoalan tetapi tantangan yang bukannya tidak mungkin dipecahkan dengan mudah.
PB HMI dan HMI MPO
Cuma masalahnya sekarang, bagaimana agar HMI yang telah memiliki makna sejarah dan mempunyai tujuan yang luhur tersebut bisa survive dalam setiap perkembangan zaman yang terus menerus beubah. Dalam kaitan inilah HMI harus selalu bisa memahami perkembangan dan keadaan zaman serta menyesuaikan program-programnya dengan perkembangan zamannya.Dia juga harus membina diri menjadi kader bangsa yang punya kualitas dan mempunyai aspirasi keislaman.Hal itu juga untuk menjaga agar HMI tetap eksis tanpa melenceng dari maksud dan tujuan pendiriannya.
Memang akhir-akhir ini kita melihat seolah-olah di dalam tubuh HMI ada kesan perpecahan, yakni adanya Pengurus Besar (PB) dan ada HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang mengklaim dirinya sebagai pelurus HMI yang telah dianggapnya melenceng dari tujuan semula. Tetapi hal itu menurut saya sebenarnya hanyalah suatu kesalahpahaman yang sifatnya temporer.Dan perbedaan paham itu diperlukan.Karena, suatu organisasi hanya bisa maju dan dinamis kalau ada perbedaan paham di antara para anggotanya.Dan seandainya sekarang dikenal kubu PB dan kubu MPO, asalkan mereka masih setia kepada cita-cita semula, sebetulnya bukanlah suatu masalah.
HMI Tidak Pernah Menyimpang
Sejauh pengamatan saya, sampai saat ini HMI tidak pernah menyimpang ari cita-cita maupun aturan main yang telah ditentukan.Ini terbukti sampai sekarang keputusan-keputusan kongres masih dijalankan, dan anggota HMI memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Kini, kalau banyak pihak menyoroti HMI agak melempem dan tidak lagi berpikir tentang perubahan sosial, itu sangat keliru.Pada zaman sekarang, yang membuat suatu perubahan sosialyang diutamakan adalah penguasaan teknologi.Karena itulah HMI sekarang lebih memfokuskan geraknya untuk bisa menguasai teknologi sekaligus mengantisipasi dampak-dampak yang ditimbulkan teknologi tersebut.
Islam tidak akan bisa dijalankan dengan sempurna kalau dirinya masih terjajah pendidikannya, spiritual maupun materialnya. Nah, untuk membebaskan keterjajahan itu dibutuhkan profesionalisme dari para anggota dan alumni HMI dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.Apa yang dilakukan para anggota HMI sekarang ini, menurut pengamatan saya, sudah mengarah kepada aktivitas yang mengantisipasi perkembangan tersebut.
HMI sampai saat ini juga dikenal sebagai “pabrik” yang menghasilkan alumni-alumni yang berkualitas dan punya kepeloporan dalam proses demokratisasi. Bahkan dalam tata cara pemilihan pengurus, HMI bisa dikatakan paling demokratis. Di HMI masa jabatan pengurus tidak lebih dari satu kali. Hal ini akan merangsang calon-calon yang muda untuk lebih diri agar kelak punya kesempatan memimpin.
Tetapi, apakah peran “pabrik” cendekiawan Muslim yang berkualitas ini bisa dipertahankan?Ini mungkin harus dijawab generasi HMI yang ada sekarang ini. Dan untuk bisa mempertahankan peran tersebut, tidak ada jalan lain kecuali dengan menjadi lebih peka terhadap perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi.[]

Sumber tulisan: Harian Jawa Pos, tanggal 18 September 1990, sebagaimana dimuat dalam Drs. H. Agussalim Sitompul (Editor), HMI Mengayuh di Antara Cita dan Kritik, Yogyakarta, Aditya Media, 1997, halaman 503-505.





LAFRAN PANE lahir di Padang Sidempuan pada 5 Februari 1922 dan meninggal dunia di Yogyakarta pada 24 Januari 1991. Ayah tiga anak (dua laki-laki, satu perempuan) ini memulai pendidikan tingginya di Sekolah Tinggi Islam (STI, kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia, UII) Yogyakarta pada 1946 dan menyelesaikannya di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial, Politik (HESP) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1953.
Mengabdikan dirinya melalui dunia pendidikan, pada tanggal 1 Desember 1966 Lafran diangkat oleh Presiden Republik Indonesia menjadi Guru Besar dalam Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIS-IKIP) Yogyakarta.Empat tahun kemudian, tepatnya pada hari Kamis 16 Juli 1970, Lafran Pane menyampaikan Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar berjudul Perobahan Konstitusionil.
Dalam kapasitasnya sebagai dosen FKIS-IKIP Yogyakarta, Lafran Pane pernah berkunjung ke Australia selama 4,5 bulan atas biaya Colombo Plan.
Saat kuliah di STI inilah bersama 14 temannya sesama mahasiswa STI, pada hari Rabu Pon, 14 Rabi’ul Awal 1366 bertepatan dengan 5 Februari 1947, Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa yang hingga saat ini terus memberikan sumbangan terbaiknya kepada umat, bangsa, dan negara.
Pada 1940-1942, saat masih tinggal di Jakarta, Lafran Pane aktif sebagai anggota Barisan Pemuda Gerindo yang saat itu dipimpin oleh A.M. Hanafi. Pada saat yangsama, Lafran juga menjadi anggota Indonesia Muda yang saat itu dipimpin oleh Subagio Hadinoto.

Tidak ada komentar: