Sepatah Kata Dari Saya

Assalamualaikum Wr. Wb.

Terima kasih anda telah mengunjungi blog saya. Blog ini ditujukan sebagai sarana komunikasi antara saya dan ummat. Mudah-mudahan blog ini dapat bermanfaat bagi anda. Saya harap, anda berkenan memberikan kritik dan masukan anda ke email lukman.hakiem@yahoo.co.id . Kritik dan masukan anda sangat berarti bagi saya dalam mengabdi dan melayani ummat, demi melanjutkan pengabdian untuk kemaslahatan bersama.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Kegiatan Saya

Lukman_Hakiem's Profile Pictures album on Photobucket

18 Januari 2016

Kelahiran HMI di Yogyakarta



Kelahiran HMI di Yogyakarta[1]
Oleh: Asmin Nasution[2]
I
Pengantar
            Terlebih dahulu saya mengucapkan terima kasih atas undangan, dan menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas prakarsa Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) untuk mengadakan Seminar Sejarah HMI. Semoga seminar dapat dihadiri oleh Saudara-saudara alumni seperti terdaftar pada surat PB HMI, dan dapat mencapai hasil yang kita harapkan.
            Usaha semacam ini mungkin bukanlah untuk yang pertama kali. Pernah saya dihubungi oleh seorang anggota pimpinan HMI Cabang Ujung Pandang, dan pimpinan HMI Cabang Jakarta untuk memperoleh fakta-fakta mengenai lahirnya organisasi mahasiswa ini, dan juga untuk memberikan ceramah dalam suatu pengkaderan mengenai hal yang sama.
Kepada mereka atau dalam ceramah selalu saya ingatkan bahwa keterangan-keterangan yang saya berikan adalah semata-mata berdasarkan ingatan saya, yang tidak boleh tidak telah samar-samar oleh karena kejadiannya telah hampir melalui umur satu generasi manusia. (Sekarang --sejak tahun 1947 sampai tahun 1975-- sudah 28 tahun). Dan selalu saya sarankan agar ditemui senior-senior alumni lainnya yang aktif antara tahun-tahun 1947-1950.
Saya lihat nama-nama alumni tersebut sebagian besar sudah terdaftar oleh Saudara-saudara sebagai pemerasaran atau sebagai resources person.
Dalam menyusun sejarah HMI pada hemat saya kita harus sepakati cara-caranya, yaitu mengambil metode riset ilmiah, dan tidak lain daripada itu. Bila kemudian ada hal-hal atau anggapan hingga sekarang terbukti keliru menurut hasil penelitian ilmiah sejarah, maka yang tiada benar haruslah dikoreksi atas keputusan seminar.
Sekali lagi saya katakan, uraian berikut di bawah ini adalah berdasarkan ingatan belaka. Saya mendapat kehormatan ditunjuk sebagai salah seorang resources person.
Izinkanlah saya membatasi informasi hanya mengenai “Kelahiran HMI di Yogyakarta”.
Pendahuluan
Yang saya ketahui, orang yang pertama kali mengeluarkan pikiran atau maksud mendirikan organisasi mahasiswa Islam di Yogyakarta dalam tahun 1947 adalah mahasiswa bernama Lafran Pane. Ide itu dicetuskannya ketika ia terdaftar sebagai mahasiswa mahasiswa Sekolah Tinggi Islam[3] (STI. Sejak 27 Rajab 1367 atau 10 Maret 1948, STI diubah namanya menjadi University Islam Indonesia) di Yogyakarta. Pada waktu itu saya pun adalah mahasiswa pada universitas tersebut.
Perkenalan saya dengan Saudara Lafran Pane sebenarnya sudah sejak tahun 1943, ketika kami dalam masa pendudukan Jepang tinggal di Jakarta. Malahan orang tuanya pun telah lama sebelumnya saya kenal. Yaitu ketika saya masih murid sekolah dasar yang dipimpin oleh Pane Senior di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan.
Maka dapatlah dipahami bahwa kami berdua yang berasal dari satu daerah merasa dekat satu sama lain dan banyak saling berhubungan dan mengeluarkan cita-cita masing-masing sebagai mahasiswa.
Motivasi dan Latar Belakang Sejarah Berdirinya HMI
Pada suatu hari Saudara Lafran Pane bicarakan dengan saya ide untuk mendirikan organisasi mahasiswa Islam, di samping organisasi-organisasi yang telah ada di Yogyakarta.
Ingat saya sudah ada Persatuan Mahasiswsa Indonesia (PMI), Persatuan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan beberapa organisasi intern universitas atau fakultas.
PMI dan PMY bersifat umum, dan kadang-kadang ikut aktifitas politik. Salah seorang anggota pimpinan bernama Suripno yang baru pulang dari Cekoslawakia dan berpaham komunis (pada waktu itu tidak diketahui umum).  PMKRI jelas bersifat keagamaan.
Organisasi pemuda yang di dalamnya juga ada mahasiswanya pada waktu itu adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).
Motivasi dan latar belakang sejarah berdirinya HMI, kiranya dapatlah dicari banyak sedikitnya di sekitar eksistensi organisasi-organisasi tersebut di atas, yaitu:
1. Belum ada organisasi mahasiswa Islam,
2. Telah berdirinya organisasi mahasiswa keagamaan PMKRI,
3. Walaupun samar-samar, adanya organisasi bercorak politik, dan
4. GPII bersifat terlalu heterogen untuk dimasuki mahasiswa Islam.
Nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Di waktu  itu saya sendiri duduk sebagai salah seorang anggota pengurus organisasi intern mahasiswa STI. Mendengar ide yang dicetuskan oleh Saudara Lafran Pane, saya enthousiast dan kami coba-cobalah mereka-reka apakah gerangan nama organisasi mahasiswa Islam yang akan didirikan itu?
Persatuan Mahasiswa Islam?
Perhimpunan Mahasiswa Islam?
Wah! Keduanya kalau disingkat masing-masing menjadi PMI. Tidak kena. Sudah ada Persatuan Mahasiswa Indonesia yang singkatannya PMI. Juga bisa disangka orang Palang Merah Indonesia.
Maka kata “Perhimpunan” kami ganti dengan “Himpunan”. Artinya sama. Jadilah bayi yang akan lahir: “Himpunan Mahasiswa Islam”.
Peristiwa ini terjadi dalam bulan Februari 1947.
Saat-saat Berdirinya HMI
            Akan tetapi kami belum merasa aman kalau belum berkonsultasi dengan beberapa pemuka Islam, terutama dengan Rector Magnificus STI, Bapak A. Kahar Mudzakkir, mengenai rencana pendirian organisasi mahasiswa Islam tersebut.
            Tiada lama kemudian, pada suatu hari kami berdua –Saudara Lafran Pane dan saya—menemui Bapak Ismail Banda, B.A., anggota junior Dewan Pimpinan Masyumi di tempat kediamannya di Jalan Ngabean. Setelah menerangkan maksud kedatangan kami, beliau berkata antara lain bahwa rencana itu adalah baik sekali. Beliau memberi nasihat agar anggota-anggota organisasi mahasiswa Islam yang akan didirikan itu nanti tidak lupa pada tugas utamanya yaitu studi, dan tidak ikut-ikutan berpolitik.
            Dalam pada itu kami berdua menjelaskan bahwa Himpunan yang akan kami dirikan adalah berdiri sendiri, tidak ada hubungan secara organisatoris dengan partai-partai politik Islam, bukan “anak” atau “onderbouw” dari salah organisasi politik Islam yang mana pun, tetapi akan bekerja sama dengan semua organisasi Islam.
            Dari rumah Bapak Ismail Banda, kami menuju tempat kediaman Rector Magnificus STI, Bapak A. Kahar Mudzakkir, juga di Jalan Ngabean. Beliau menyatakan gembira adanya inisiatif demikian dari mahasiswanya.
            Dengan hati besar kami tinggalkan rumah beliau, dan pada suatu rapat dengan mahasiswa-mahasiswa STI selesai kuliah, maksud mendirikan himpunan mahasiswa Islam menjadi topik pembicaraan dan diputuskanlah mewujudkan organisasi tersebut. Himpunan Mahasiswa Islam lahir dalam lingkungan STI.
Pengurus HMI yang Pertama
            Pada petang itu dibentuklah pengurus HMI yang pertama. Antara lain Ketua Saudara Lafran Pane, Wakil Ketua Asmin Nasution.
            Untuk menyusun Anggaran Dasar ditunjuk Saudara Asmin Nasution. Anggaran Rumah Tangga dapat menyusul kemudian.
Anggaran Dasar HMI yang Pertama
            Untuk menjalankan tugas menyusun Anggaran Dasar itu, saya pinjam sebuah buku dari Saudara Djanamar Adjam, yaitu suatu buku yang di dalamnya terdapat Anggaran Dasar sebuah organisasi kepanduan Islam di mana duduk sebagai pengurusnya, Mohamad Roem dan Jusuf Wibisono. Organisasi pandu ini berkedudukan di Batavia (Jakarta).
            Rangka Anggaran Dasar HMI yang pertama diambil dari buku itu. Apa dasar organisasi? Ingat saya adalah Al-Quran dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya antara lain untuk membentuk cendekiawan-cendekiawan Islam menuju masyarakat Islam yang makmur dan bermartabat tinggi.
HMI Mulai Aktif di Luar STI
            Saudara Lafran Pane yang pandai bergaul memperoleh banyak kawan di Balai Perguruan Tinggi (cikal bakal Universitas) Gadjah Mada. Mula-mula beberapa orang dapat ditariknya menjadi anggota dan simpatisan HMI.
            Kebetulan di bulan berikutnya di Malang akan diadakan Kongres Mahasiswa se-Indonesia. HMI dapat mengirimkan wakinya kalau dapat memenuhi persyaratannya antara lain mempunyai Anggaran Dasar dan memiliki anggota sedikit-dikitnya 50 orang.
            Maka segeralah kami membuat daftar nama-nama anggota HMI. Sebenarnya waktu itu yang resmi terdaftar belum mencapai 50 orang, tetapi kami anggap semua mahasiswa STI adalah sudah menjadi anggota. Kami buatlah suatu daftar nama-nama anggota melebihi dari jumlah 50 orang, dan HMI mendapat undangan ke Kongres. Boleh mengutus dua orang wakil. Saudara Lafran Pane dan saya sendiri pergi ke Malang mewakili HMI.
            Dalam perjalanan ke Malang dengan kereta api dari Yogyakarta, kami berjumpa dengan kawan-kawan sepaham di kalangan mahasiswa BPT Gama, antara lain Saudara M.S. Mintaredja.
            Dalam Kongres Mahasiswa se-Indonesia itu, eksistensi HMI meluas dikenal, dan simpatisan bertambah jumlahnya.
            Peristiwa penting dalam pertumbuhan HMI dalam masa-masa pertama adalah kepindahan Saudara Lafran Pane ke BPT GAMA. Sejak itulah keanggotaan HMI meluas dengan mahasiswa-mahasiswa yang berpendidikan umum, intelektuil-intelektuil muda dari macam-macam fakultas, di antaranya terdapat calon-calon insinyur, calon-calon hakim, calon-calon dokter, calon-calon ekonom, calon-calon sastrawan, dan lain-lain.
            Saya kira pada saat-saat itulah masuk anggota HMI selain M.S. Mintaredja, Achmad Tirtosudiro, dan M. Sanusi; juga Ushuluddin Hutagalung, Tedjaningsih, Baroroh, Tudjimah, Hasjim Mahdan, A. Dahlan Ranuwihardjo, dan lain-lain.
            Masuk juga menjadi anggota HMI mahasiswa-mahasiswa Fakultas Kedokteran yang waktu itu berkedudukan di Klaten dan Solo.
Pergantian Pengurus yang Pertama
            Mungkin pada permulaan tahun 1948, HMI mengadakan pergantian pengurus. Dalam kepengurusan yang baru, mulai duduk kawan-kawan berasal dari GAMA. Agaknya dalam pimpinan yang baru itu Ketuanya adalah Saudara M. Sanusi, Wakil Ketua Saudara Lafran Pane, dan Asmin Nasution sebagai Sekretaris.
            Dengan pimpinan yang baru, Anggaran Dasar pun ditinjau. Dan terjadilah penyempurnaan Anggaran Dasar HMI yang pertama. Anggaran Rumah Tangga mulai disusun.
HMI Memasuki Organisasi Perjuangan Bersenjata
            Dalam tahun 1947 akhir atau permulaan tahun 1948, beberapa puluh mahasiswa yang tergabung dalam, HMI memasuki Corps Mahasiswa (CM) Brigade 17.
            Saya yakin akan kebenaran fakta ini, oleh sebab saya sendiri termasuk salah satu anggota yang pulang balik ke garis depan hingga pendudukan kota Yogyakarta, bersama-sama kawan-kawan dari HMI.
            Di antara kami juga ada yang membantu di instansi militer seperti di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) Jalan Gondolayu, Yogyakarta, dalam uniform CM.
Selama Clash II dengan Belanda sampai Menjelang Akhir Tahun 1950
            Selama Belanda menduduki kota-kota universitas Republik waktu itu (Yogyakarta, Klaten, dan Solo), dapat dikatakan aktivitas HMI tidak ada. Mahasiswa-mahasiswa sedang terpencar-pencar, dan universitas ditutup. Setelah keadaan mulai aman dan universitas dibuka kembali, mahasiswa-mahasiswa pun berdatangan kembali ke almamaternya. Maka mulailah timbul lagi kegiatan-kegiatan.
            HMI membentuk pengurus baru. Ketua Umum Saudara M.S. Mintaredja. Pengurus lainnya adalah Lafran Pane, Ushuluddin Hutagalung (Sekretaris). Saya sendiri tercantum dalam daftar sebagai Pembantu. Pada waktu itu cabang-cabang sudah mulai berdiri.
            Mengenai perkembangan HMI di saat-saat ini, dapatlah didengar dari Saudara M.S. Mintaredja, Lafran Pane, dan Dahlan Ranuwihardjo. Saya sendiri tidak lama kemudian bertolak ke Jakarta. Dan di sini pulalah saya akhiri keterangan berdasarkan ingatan ini.[]

II
Pertanyaan Project Officer
            Bapak adalah sahabat dekat dari Lafran Pane, bahkan sudah lama mengenal beliau sebelum lahirnya atau timbulnya ide mendirikan organisasi mahasiswa Islam (HMI). Sehubungan dengan itu, dapatkah Bapak menjelaskan kepada kami: apakah menurut pengetahuan Bapak timbulnya ide dari Lafran Pane untuk mendirikan HMI mempunyai kaitan dengan perkembangan pemikiran Islam seperti Pan Islamisme, aliran-aliran pikiran tertentu dalam Islam, dan sebagainya?
Jawaban Asmin Nasution
            Sepengetahuan saya ide untuk mendirikan organisasi mahasiswa Islam (HMI) itu murni timbul dari Lafran Pane. Adapun mengenai hubungannya dengan yang dimaksud pertanyaan tersebut, sepengetahuan saya tidak ada. Karena saya teman rapat dengan dia, maka menurut hemat saya ide tersebut lahir adalah besar hubungannya dengan peristiwa (Proklamasi) Kemerdekaan, pertumbuhan universitas, dan keadaan organisasi mahasiswa yang belum ada bercorak Islam. Ditambah oleh keinginan untuk dapat mengikis rasa “rendah diri” dari masyarakat dan khususnya mahasiswa yang beragama Islam.
Pertanyaan Project Officer
            Dari keterangan yang Bapak telah kirimkan kepada kami (telah kami perbanyak dan pelajari), kami telah memahaminya. Namun ada beberapa di antaranya yang perlu kami tanyakan kembali (karena Bapak terpaksa tidak dapat mengikuti Seminar nanti).
a.    Dari pengamatan kami bahwa PMKRI lahir sesudah HMI lahir. Hal ini kami kemukakan karena menurut Bapak salah satu motivasi yang ikut mendorong lahirnya HMI adalah dengan telah lahirnya organisasi yang bercorak keagamaan (PMKRI). Bagaimanakah sebenarnya dalam hal ini?
b.    Bapak ditugaskan oleh organisasi untuk menyusun Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMI. Kami tanyakan apakah dalam rapat pembentukan (5 Februari 1947) belum ada sama sekali rumusan tujuan dan dasar? Mengapa Bapak memilih rangka AD/ART pertama HMI dari AD/ART Kepanduan Islam? Dasar organisasi adalah Al-Quran dan Hadits. Bagaimanakah waktu itu anggota atau pengurus menafsirkan dasar ini?
Jawaban Asmin Nasution
Tentang kelahiran PMKRI yang dalam surat saya terdahulu saya katakan telah berdiri sebelum organisasi HMI ada, hal ini dapat ditinjau kembali. Menurut ingatan saya dalam beberapa pertemuan mahasiswa ada yang mewakili dari kelompok agama Katolik/Kristen. Yang selalu hadir itu seorang wanita, namanya saya sudah lupa.
Dalam rapat pertama (pembentukan HMI), sudah ada rumusan. Tujuan itu terdiri dari dua hal yang saya sudah lupa redaksinya.
Tentang mengapa saya memilih AD/ART organisasi kepanduan Islam untuk contoh kerangka AD/ART HMI pertama adalah karena kebetulan itu yang saya peroleh, dan tidak ada sama sekali dengan maksud lain, apalagi kalau dikatakan untuk memasukkan pengaruh organisasi kepanduan itu terhadap HMI.
Tentang bagaimana dan apa penafsiran dasar organisasi Al-Quran dan Hadits waktu itu, tidak ada. Hanya itu. Tidak ditafsir-tafsirkan.
Pertanyaan Project Officer
Ada beberapa kesimpangsiuran tentang pergantian pengurus dari informasi yang kami terima pada periode awal HMI. Reshuffle pertama ada yang mengatakan terjadi pada bulan Agustus di mana M.S. Mintaredja diserahi untuk menjawab Ketua Umum dan Lafran Pane turun menjadi wakilnya. Ada yang mengatakan perubahan pengurus itu terjadi setelah kongres pertama pada bulan November 1947.
Menurut Bapak sendiri, pergantian itu sesudah tahun 1948, bukan pula kepada M.S. Mintaredja tetapi kepada M. Sanusi. Dapatkah Bapak mengingat kembali hal-hal sehubungan dengan itu, tentang mana yang benar dari informasi-informasi tersebut?
Jawaban Asmin Nasution
Tentang ini memang perlu sekali dijelaskan, dan seingat saya M.S. Mintaredja memegang HMI (menjadi Ketua) setelah cabang-cabang mengadakan pertemuan di Yogyakarta (Kongres I). Sebelum itu saya rasa, belum.
Tetapi, hal ini tanyalah kepada Bapak Lafran Pane, Bapak Dahlan, dan sebagainya.
Pertanyaan Project Officer
Dapatkah Bapak mengemukakan bukti-bukti bahwa HMI mempunyai peranan besar dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia? Misalnya dalam Clash I dan Clash II serta dalam penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1948 di Madiun.
Jawaban Asmin Nasution
Bukti-bukti sebenarnya banyak. Misalnya banyak anggota HMI yang aktif di Corps Mahasiswa (CM) seperti Bapak Hartono, dan Bapak Achmad Tirtosudiro. Saya sendiri waktu itu aktif dengan seragam CM yang pakai gambar tengkorak, di MBAD Jalan Gondolayu, Yogyakarta. Dalam agresi, kami sering ke front.
Memang ketika itu kami tidak membawa nama organisasi, karena waktu itu kita lebih mengutamakan persatuan dan kekompakan. Namun perasaan ke-HMI-an itu ada, di mana kalau antara anggota HMI yang ketemu misalnya di front, ah.... mesra sekali.
Pertanyaan Project Officer
Terakhir, kami mintakan saran Bapak tentang kerangka sejarah HMI atau sistematikanya, serta bagaimana menurut Bapak prospek HMI buat masa mendatang ini?
Jawaban Asmin Nasution
Tentang kerangka sejarah, tentu seminar akan dapat menyusun dengan baik, karena saya percaya bahwa orang-orang HMI sekarang sudah jauh lebih maju dari dahulu.
Buanglah informasi-informasi yang diragukan atau palsu. Janganlah terlalu membesar-besarkan suatu fakta sehingga menyimpang dari standar ilmiah.
Mengenai masa depan HMI, saya berkeyakinan asal garis independen dijaga dan tidak terjatuh ke dalam kultus kepada seseorang atau kelompok, serta menjaga disiplin; saya optimis HMI akan berkembang terus.
Jangan hendaknya pula HMI membuat sesuatu yang kelak akan menghalangi perkembangannya sendiri.
Belajarlah dari sejarah runtuhnya masa kejayaan Islam yang karena sesuatu yang datang dari dalam Islam sendiri telah membunuh perkembangan Islam, terutama dalam ilmu pengetahuan.[]
              
             




[1] Makalah disampaikan dalam Seminar Sejarah HMI yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), diduga pada akhir 1975. Tulisan ini semula merupakan dua naskah yang terpisah. Oleh penyunting, naskah yang semula terpisah itu disatukan, meskipun tetap terdiri atas dua bagian. Bagian pertama (I) ditulis oleh Asmin Nasution sebagai resources person (narasumber) bertitimangsa 10 Oktober 1975, bagian kedua (II) merupakan hasil wawancara Project Officer Seminar Sejarah HMI dengan Asmin Nasution, 22 November 1975. Baik naskah tertulis maupun hasil wawancara, diperbanyak oleh PB HMI. Kedua naskah diperoleh dari dokumentasi pribadi Mohammad Iqbal Pane.
[2] Asmin Nasution aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta (1947-1949) sebagai Wakil Ketua, sebagai Sekretaris, dan sebagai Pembantu. Pada 1951-1952 sebagai Wakil Ketua HMI Cabang Jakarta (Ketua A.S. Broto). Pada 1952-1953 sebagai Sekretaris Umum PB HMI (Ketua Umum A. Dahlan Ranuwihardjo).
[3] Sekolah Tinggi Islam didirikan di Jakarta pada tanggal 27 Rajab 1364 Hijriah bertepatan dengan 8 Juli 1945 Miladiah.

01 Januari 2016



5
Menggugat Eksistensi HMI
(Bukan Masalah Kubu MPO dan PB HMI)

            HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi kader yang lahir karena kebutuhan politik mahasiswa.Kondisi politik yang melingkupi ketika itu merangsang beberapa mahasiswa untuk membentuk suatu organisasi yang bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Karena itu tujuan didirikannya HMI antara lain mempertahankan Negara Republik Indonesia serta mempertinggi derajat dan martabat rakyat Indonesia. Juga untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam di muka bumi.
Kepentingan Nasional dan Kepentingan Islam
            Sebagai organisasi kader, HMI menginginkan semua mahasiswa yang beragama Islam mengenal dan menghayati ajaran agamanya, serta mengamalkannya di mana pun dia berada.Tentunya penghayatan dan pengenalan agama tersebut disesuaikan dengan atribut kemahasiswaannya yang lebih menekankan pada etos kecendekiawanan.Harapan yang ingin diperoleh dari ini adalah terciptanya insan akademis yang beragama dan dan memiliki wawasan serta kepekaan sosial-politik.
            Tekad yang menyertai didirikannya HMI semacam itulah, yang menjadikan ia selalu ingin eksis dalam setiap kurun waktu dan setiap perjalanan sejarah. Kalau tekad tersebut belum tercapai, apa pun tantangannya, harus dihadapi. Dengan kata lain, dalam situasi sosial-politik yang bagaimana pun selama usaha menciptakan insan akademis yang Islami dan memiliki kepekaan sosial-politik ini belum berhasil, tidak ada alasan untuk meniadakan organisasi tersebut.Paling tidak itu menjadi keinginan saya sebagai pendiri organisasi tersebut.
Tentu saja sesuai dengan perkembangan sejarah, tujuan utama didirikannya HMI tersebut bisa saja bergeser.Dan yang demikian ini, juga sudah terjadi.Meski demikian, pergeseran tujuan yang pernah terjadi di dalam HMI, beberapa waktu setelah didirikan, tidaklah berarti menghilangkan tujuan semula.Pergeseran tujuan yang terjadi semata-mata hanyalah sebagai upaya mempersempit dan menspesialisasikan tujuan tersebut.Tujuan itu adalah turut membina anggotanya agar menjadi sarjana-sarjana yang handal.
Jadi, pada garis besarnya, HMI lahir untuk kepentingan nasional dan kepentingan Islam. Dengan kata lain, kelahiran HMI merupakan manifestasi kepedulian mahasiswa pada waktu itu untuk ikut berperan dalam menegakkan Republik ini, yang sekaligus mempertahankan dan menyiarkan Islam. Dan ini bisa dibuktikan dari kiprah HMI dalam setiap perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Kalau kemudian HMI berperan juga dalam suatu perubahan sosial, itu sebenarnya hanyalah peran tambahan.Sebab HMI sebagai generasi muda yang sekaligus warga negara, mempunyai kewajiban memberi kekhususan kepada mahasiswa yang beragama Islam yang menjadi anggotanya.Misalnya saja turut membentuk anggota HMI supaya mempunyai sikap kritis dan mempunyai kualitas yang seharusnya dimiliki seorang mahasiswa.Kemudian sesudah menjadi sarjana mereka bisa bekerja dengan tetap membawa missi-missi yang bernafaskan Islam.Atau bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat lingkungannya atau bahkan menjadi pemimpin dalam skala lokal maupun nasional.
Kemudian apakah tujuan tersebut telah tercapai?Untuk menjawab pertanyaan itu agak sulit. Tetapi kalau sekarang kita melihat banyak mahasiswa yang mempunyai kebanggaan terhadap Islam, masjid-masjid di kampus penuh dengan kegiatan keagamaan, bisa dikatakan ada arahan ke sana. Ini bukan berarti mengklaim bahwa kecenderungan tersebut semata-mata sebagai hasil usaha HMI, tetapi yang lebih penting adalah HMI memiliki peranan di dalamnya.Sebab sejarah mengatakan bahwa dulu untuk mencari mahasiswa yang shalat saja sulit.Walaupun memang belum tentu bahwa perubahan-perubahan tersebut semata-mata atas andil HMI, tapi hal seperti itulah yang diinginkan HMI.
Meski demikian harus diakui bahwa sekarang ini masih banyak mahasiswa yang menjadi anggota HMI hanya sebagai simbol status.Mereka mengikuti basic training –pelatihan kepemimpinan tingkat dasar—HMI hanya untuk hura-hura atau ramai-ramai. Tapi itu harus dipahami sebagai proses, karena memang mahasiswa yang jadi anggota HMI berasal dari tingkat pemahaman keagamaan yang berbeda-beda. Ada yang ketika masuk HMI baru bisa membaca syahadat, ada yang sudah bisa membaca Al-Quran, dan ada pula yang dirinya sudah mapan dalam beragama.
Ini persoalan yang tidak begitu sulit diatasi, karena kita harus paham bahwa perkembangan jiwa manusia memang punya tingkatan yang berbeda. Bagi HMI, yang demikian ini sebenarnya bukan persoalan tetapi tantangan yang bukannya tidak mungkin dipecahkan dengan mudah.
PB HMI dan HMI MPO
Cuma masalahnya sekarang, bagaimana agar HMI yang telah memiliki makna sejarah dan mempunyai tujuan yang luhur tersebut bisa survive dalam setiap perkembangan zaman yang terus menerus beubah. Dalam kaitan inilah HMI harus selalu bisa memahami perkembangan dan keadaan zaman serta menyesuaikan program-programnya dengan perkembangan zamannya.Dia juga harus membina diri menjadi kader bangsa yang punya kualitas dan mempunyai aspirasi keislaman.Hal itu juga untuk menjaga agar HMI tetap eksis tanpa melenceng dari maksud dan tujuan pendiriannya.
Memang akhir-akhir ini kita melihat seolah-olah di dalam tubuh HMI ada kesan perpecahan, yakni adanya Pengurus Besar (PB) dan ada HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang mengklaim dirinya sebagai pelurus HMI yang telah dianggapnya melenceng dari tujuan semula. Tetapi hal itu menurut saya sebenarnya hanyalah suatu kesalahpahaman yang sifatnya temporer.Dan perbedaan paham itu diperlukan.Karena, suatu organisasi hanya bisa maju dan dinamis kalau ada perbedaan paham di antara para anggotanya.Dan seandainya sekarang dikenal kubu PB dan kubu MPO, asalkan mereka masih setia kepada cita-cita semula, sebetulnya bukanlah suatu masalah.
HMI Tidak Pernah Menyimpang
Sejauh pengamatan saya, sampai saat ini HMI tidak pernah menyimpang ari cita-cita maupun aturan main yang telah ditentukan.Ini terbukti sampai sekarang keputusan-keputusan kongres masih dijalankan, dan anggota HMI memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Kini, kalau banyak pihak menyoroti HMI agak melempem dan tidak lagi berpikir tentang perubahan sosial, itu sangat keliru.Pada zaman sekarang, yang membuat suatu perubahan sosialyang diutamakan adalah penguasaan teknologi.Karena itulah HMI sekarang lebih memfokuskan geraknya untuk bisa menguasai teknologi sekaligus mengantisipasi dampak-dampak yang ditimbulkan teknologi tersebut.
Islam tidak akan bisa dijalankan dengan sempurna kalau dirinya masih terjajah pendidikannya, spiritual maupun materialnya. Nah, untuk membebaskan keterjajahan itu dibutuhkan profesionalisme dari para anggota dan alumni HMI dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.Apa yang dilakukan para anggota HMI sekarang ini, menurut pengamatan saya, sudah mengarah kepada aktivitas yang mengantisipasi perkembangan tersebut.
HMI sampai saat ini juga dikenal sebagai “pabrik” yang menghasilkan alumni-alumni yang berkualitas dan punya kepeloporan dalam proses demokratisasi. Bahkan dalam tata cara pemilihan pengurus, HMI bisa dikatakan paling demokratis. Di HMI masa jabatan pengurus tidak lebih dari satu kali. Hal ini akan merangsang calon-calon yang muda untuk lebih diri agar kelak punya kesempatan memimpin.
Tetapi, apakah peran “pabrik” cendekiawan Muslim yang berkualitas ini bisa dipertahankan?Ini mungkin harus dijawab generasi HMI yang ada sekarang ini. Dan untuk bisa mempertahankan peran tersebut, tidak ada jalan lain kecuali dengan menjadi lebih peka terhadap perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi.[]

Sumber tulisan: Harian Jawa Pos, tanggal 18 September 1990, sebagaimana dimuat dalam Drs. H. Agussalim Sitompul (Editor), HMI Mengayuh di Antara Cita dan Kritik, Yogyakarta, Aditya Media, 1997, halaman 503-505.





LAFRAN PANE lahir di Padang Sidempuan pada 5 Februari 1922 dan meninggal dunia di Yogyakarta pada 24 Januari 1991. Ayah tiga anak (dua laki-laki, satu perempuan) ini memulai pendidikan tingginya di Sekolah Tinggi Islam (STI, kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia, UII) Yogyakarta pada 1946 dan menyelesaikannya di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial, Politik (HESP) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1953.
Mengabdikan dirinya melalui dunia pendidikan, pada tanggal 1 Desember 1966 Lafran diangkat oleh Presiden Republik Indonesia menjadi Guru Besar dalam Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIS-IKIP) Yogyakarta.Empat tahun kemudian, tepatnya pada hari Kamis 16 Juli 1970, Lafran Pane menyampaikan Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar berjudul Perobahan Konstitusionil.
Dalam kapasitasnya sebagai dosen FKIS-IKIP Yogyakarta, Lafran Pane pernah berkunjung ke Australia selama 4,5 bulan atas biaya Colombo Plan.
Saat kuliah di STI inilah bersama 14 temannya sesama mahasiswa STI, pada hari Rabu Pon, 14 Rabi’ul Awal 1366 bertepatan dengan 5 Februari 1947, Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa yang hingga saat ini terus memberikan sumbangan terbaiknya kepada umat, bangsa, dan negara.
Pada 1940-1942, saat masih tinggal di Jakarta, Lafran Pane aktif sebagai anggota Barisan Pemuda Gerindo yang saat itu dipimpin oleh A.M. Hanafi. Pada saat yangsama, Lafran juga menjadi anggota Indonesia Muda yang saat itu dipimpin oleh Subagio Hadinoto.